Berita Umum Kehutanan Lingkungan Hidup

Banyak Warga Di Terkam Harimau, LLH Jejak Menduga ini Penyebabnya

SUMSEL, JIS.com – Sejak beberapa bulan terakhir warga dibeberapa wilayah provinsi Sumatera Selatan seperti Lahat, Pagaralam dan Muaraenim  di buat takut untuk pergi berkebun karena adanya teror harimau yang menerkam warga. Bahkan tak main-main kasus harimau yang menerkam warga ini telah menewaskan 5 orang dalam kurun waktu  kurang lebih satu bulan.

Diduga perambahan dan pengrusakan kawasan hutan lindung (HL) oleh oknum masyarakat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya peristiwa luar biasa ini. Sebab, semua kejadian baik harimau memangsa manusia ataupun beruang menyerang manusia seperti yang terjadi di OKU, wilayahnya masuk kawasan hutan lindung.

Saat ini kawasan hutan lindung yang sudah ditetapkan pemerintah, oleh oknum masyarakat justru dijadikan lahan perkebunan. Akibatnya habitat satwa liar yang ada di dalamnya menjadi berkurang. “Mungkin pembelajaran dan penyadaran untuk kita semua bahwa rusaknya hutan lindung ternyata berimbas pada rusaknya atau putusnya rantai makanan di ekosistem tersebut,” kata Pendiri Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Jelajah Alam Konservasi (Jejak) Bumi Indonesia, Hendra A Setyawan.

Menurutnya, banyak kawasan hutan lindung berubah jadi kebun. Padahal kawasan itu yang menjadi jelajah harimau untuk mencari makanan. Imbasnya, karena sumber makanan tidak diketemukan lagi oleh hewan yang bernama latin Panthrea tigris Sumaterae itu, akhirnya siapapun yang ketemu dalam kawasan tersebut jadi sasaran.“Termasuk manusia yang berladang di kawasan hutan tersebut,” ucapnya.

Untuk wilayah OKU Raya, menurut Hendra, pihaknya sudah sering melakukan edukasi pemahaman dan sosialisasi dalam kawasan hutan lindung. Langkah tersebut dilakukan mengingat kondisi hutan lindung yang ada baik kawasan hutan lindung Bukit Nanti, Mekakau Saka dan Suaka Marga Saatwa Gunung Raya hampir sebagian besar dirambah oleh masyarakat. Baik oleh masyarakat sekitar dan tidak sedikit dari pendatang luar daerah.“Sangat wajar apabila habitat satwa liar dilindungi ini rusak dan menyerang warga,” cetusnya.

Meski LLH Jejak Bumi Indonesia sering melakukan sosialisasi mengenai peraturan dalam kawasan hutan, pelestarian lingkungan, kebakaran hutan dan lahan, termasuk satwa liar yang di lindungi, namun sebenarnya kata Hendra kembali pada kesadaran individu masing-masing.“Akan tetapi hal ini (pelestarian hutan lindung, red) juga harus menjadi tanggung jawab semua pihak,” tandas Hendra.

Dia pun menggambarkan luas kawasan hutan lindung di OKU Raya yakni Bukit Nanti. Terbentang dari Kecamatan Ulu Ogan, Muara Jaya, Lengkiti, Kisam Tinggi, Runjung Agung, Muaradua, Muaradua Kisam, Pulau Beringin, Sindang Danau, dan Sungai Are.

Mirisnya, dari keterangan Hendra, Hutan Lindung Bukit Nanti seluas itu kini habitat satwa liarnya tinggal 30 persen saja. Karena 70 persennya sudah dirambah oknum masyarakat untuk berkebun terutama dijadikan kebun kopi.

“Harus segera dikoordinasikan semua pihak untuk segera mengambil sikap terutama pemerintah daerah. Biar dampak rusaknya hutan lindung tidak semakin parah. Bukan saja satwa liar seperti harimau dan beruang di dalamnya akan kehabisan sumber makanan dan ujung-ujungnya memangsa manusia. Bencana yang lebih besar mengancam seperti banjir bandang, tanah longsor dan kekeringan,” pungkas Hendra. (AND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *