Lingkungan Hidup Ogan Komering Ulu

Kadin DLH : Pembangunan Landfill PT BNYE Atas Saran DLH OKU

Baturaja, JIS.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) mengklaim bahwa pembuatan landfill milik PT Bakti Nugraha Yudha Energy (PT BNYE) di PLTU Baturaja adalah saran dari pihak DLH OKU. Hal ini dikatakan Kepala DLH OKU Selamet Riadi saat dibincangi portal ini disela-sela kegiatan jum’at bersih belum lama ini.

Dikatakan Selamet, DLH OKU menyarankan hal itu agar bisa mengatasi masalah limbah sisa pembakaran batubara yang menjadi bahan bakar listrik bertenaga uap tersebut. “Jangan salah kalau mereka (PT BNYE red) tidak membuat landfill itu dampaknya semakin berat,” ujar Selamet.

Dijelaskannya sisa pembakaran batubara itu menghasilkan limbah yakni Fly Ash yang berbentuk debu sedangkan Bottom Ash yang berbentuk seperti pasir. Batubara yang digunakan untuk bahan bakar menghasilkan uap untuk menggerakan turbin, dan sisa pembakaran Fly Ash dan Bottom Ash atau biasa disebut FABA ini lah yang nantinya akan di masukan kedalam landfill.

“Kami yang menyarankan buat landfill itu, Karena kalau tidak mbuat lendfill sisa pembakaran atau faba yang merupakan limbah B3 ini mau dibuang kemana. Sisa pembakaran ini oleh PT BNYE dibuat Batako dan paving blok mereka punya izin dari kementrian lingkungan hiudp. Namun berapa banyak batako yang bisa mereka buat sementara bahan baku dari debu ini sangat banyak. kedua sisa pembakaran ini juga diambil PT semen namun secara gratis namun pihak PT BNYE juga harus membayar dengan PT semen untuk biaya angkut FABA ini,” imbuhnya.

Saat ini dikatakan Selamet, Izin pembuatan landfill tersebut belum keluar, namun baru berbentuk dokumen kelayakan lingkungan. Hal itu juga menurutnya baru pembahasan. “Kemarin semua setuju. Hanya saja ada beberapa revisi,” katanya.

Menurut Selamet, Landfill itu berupa kolam galian yang dibawahnya di beri bio membrane. Landfill ini lanjutnya merupakan solusi mengatasi FABA. Selama ini sisa FABA PLTU hanya di masukan kedalam lubang untuk menampung FABA ini, bisa dipastikan jika turun hujan air debu sisa FABA ini mengalir menjadi limbah. “hasil rapat kemarin akan ditindak lanjuti, kemudian orang kementrian lingkungan hidup akan datang lagi untuk mengecek kelapangan, jika OK sepakat maka akan diberikan kelayakan lingkungan artinya landfill ini layak dibuat,” ucapnya.

Disinggung mengenai tanggapan masyarakat tetang anak sungai yang mulai tercemar. Selamet mengatakan dimana ada pembangunan pasti akan terjadi hal seperti itu, “dalam rapat kemarin kita dengan bahwa mereka (masyarakat red) setuju, Cuma mereka mengejar CSR dan tenaga kerja, kemarin juga sudah kita minta camat agar mereka difasilitasi untuk pertemuan untuk membahas hal itu,” Imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan Izin Batubara yang beberapa waktu lalu sempat di umumkan di sebuah media cetak lokal, Selamet mengatakan bahwa yang mengeluarkan Izin batubara adalah provinsi dan kementrian ESDM. Pihak DLH menurutnya Cuma sebatas kelayakan lingkungan. “untuk 3 usaha batubara yang kita umumkan beberapa waktu yang lalu mumgkin kelayakan lingkungannya sudah keluar, Mereka berjanji dokumen mereka itu RKL UPL. Nanti mau mereka rencana ini seperti yang sudah mereka sampaikan. Kita hanya mengawasi, Kalau tidak sesuai atau kalau ada protes dari masyarakat izin lingkungannya bisa dicabut lagi,” Tandasnya.

Sementara itu Endah Kartika Sari selaku pengamat lingkungan hidup yang dibincangi portal ini via sambungan selulernya mengatakan memang untuk Baturaba ini banyak menimbulkan dampak. Pembuatan landfill itu lanjutnya jika memang untuk mengatasi limbah sisa pembakaran cukup baik, namun harus menggunakan sanitary landfill dan sesuai proses yang benar. “landfill itu ada tiga macam, salah satunya Sanitary Landfill yang pengelolaan loimbahnya cukup baik,” katanya.

Sanitary Landfill itu dijelaskan Wanita yang merupakan Dosen Teknik Lingkungan Unbara ini, Sistem pengelolaan limbah yang sebelum masuk ke Landfill limbah itu mendapat perlakukan terlebih dahulu, hal ini untuk mengurangi kadar sisa pembakaran sebelum masuk ke Landfill dan ditutup dengan tanah, “dampak dari sisa pembakaran inikan sangat banyak Sisa pembakaran mengandung emisi yang dapat merusak tanah sehingga unsur hara yang ada didalam tanah dapat terganggu. sebelum masuk kelandfill Limbah pembakaran harus mendapat perlakuan khusus agar bisa mengurangi dampak dari sisa pembakaran,” ujarnya.

Jangankan masalah Landfill, Menurut Endah Stock Field Batubara saja sudah sangat berdampak pada lingkungan apa lagi itu adalah landfill, “tapi kita juga tidak bisa memastikan tingkat bahaya dampaknya sebelum kita lakukan survey, hal ini harus turun kelapangan untuk melakukan pengukuran,” Tandasnya (AND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *