Lingkungan Hidup

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Jejak Bumi Indonesia Menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah)

Muaradua,(26/07) – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Jejak Bumi Indonesia Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) di Resto Hotel Bil Baturaja, Kamis (25/7).
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati OKU yang diwakili Staf Ahli Bupati bidang pemerintahan M. Kait Efendi, Kodim O403 OKU Mayor Inf Syukri S.IP, Kasat Binmas Polres OKU AKP Mardi Nursal, Civitas Akademika Universitas Baturaja, UPTD KPH Wilayah VI, Dinas Lingkungan Hidup Kab. OKU, BPBD OKU, DISPORA OKU, DISKOMINFO OKU, KESBANGPOL OKU, Mapala GAPURA UNBARA, KPA Gempa Sabatra, LLH Jejak Bumi Indonesia Kab. OKU Selatan (LLH JBI OKUS), Kelompok Informasi Masyarakat Kab. OKU Selatan (KIM Kab. OKUS), serta Dinas/ instansi terkait.

Dalam sambutannya Ketua KIM OKU Hendra Setyawan selaku pelaksana mengatakan Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya Karhutlah di Bumi Sebimbing Sekundang yang saat ini sedang memasuki musim kemarau.
Sumber daya alam hutan atau lahan lanjutnya merupakan kekayaan alam yang bermanfaat sebagai penyangga ekosistem yang saat ini terus menurun akibat eksploitasi dan Karhutlah.
“Karhutlah adalah suatu ancaman terhadap kerusakan lingkungan hidup yang menyebabkan kerugian baik ekologi, Ekonomi sosial dan budaya,” kata Hendra.
Disebutkan Hendra sejak tahun 1997 hingga saat ini Karhutlah di Indonesua hampir setiap tahun terjadi, Provinsi Sumsel salah satu provinsi yang rawan karhutlah. Indikator masih sering terjadi karhutlah, pada setiap musim kemarau terjadi peningkatan jumlah titik api (hotspot).

“Akibatnya setiap tahun saat kemarau selalu dilanda bencana asap akibat karhutlah, bahkan cendrung meningkat dari tahun ketahun,” sebutnya.
Maka dari itu lanjut Hendra, KIM OKU dengan LLH Jejak Ikndonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai karhutlah, hal ini untuk membangun komintmen bersama dalam penanggulangan Karhutlah. “Semoga dengan adanya FGD ini tetbangunnya solusi bersama dalam penanggulangan Karhutlah termasuk perlindungan kawasan hutan lindung,” harapnya.

Sementara itu Bupati OKU yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati bidang pemerintahan M. Kait Efendi, sangat mengapresiasi kegiatan ini menurutnya ini merupakan salah satu komitmen KIM OKU untuk mendukung program pemerintah salah satunya dalam hal penanggulangan Karhutlah.
Berkenaan dengan FGD yang bertema “Membangun Komitmen bersama dan tanggung jawab bersama dalam penanggulangan Karhutlah” Pemkab OKU berharap forum ini semakin menguatkan komitmen kerja dan sinergisme yang solid dari semua stakeholder yang tergabung dalam Satgas karhutlath.
“Kita patut bersyukur bahwa daerah kita tidak pernah terjadi peristiwa karhutlah dalam bentuk apapun, mari kita terus bergandengan tangan untuk mempertahankan OKU tanpa asa dan Sumsel bebas asap karhutlah,” tukasnya.

Setalah kegitan berlasung panita pelaksana memberikan Kesimpulan dari Kegiatan FGD di antaranya, 1. Perlunya dilakukan Sosialisasi dan Edukasi secara kontinyu pada masyarakat kawasan hutan dan petani yang melibatkan para pihak yang terkait 2. Membangun inovasi dan kreatifitas masyarakat dalam penggunaan lahan secara efektif yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga bisa menekan pengrusakkan lingkungan hidup termasuk pembakaran hutan dan lahan. 3. Memberikan solusi bagi petani mengenai batasan – batasan/acuan dalam penggarapan lahan dengan cara membakar 4. Melakukan peneggakan hukum / sangsi yang tegas dalam pelanggaran yang memang tidak bisa di tolerir. 5. Memberikan masukan terhadap Pemerintah Kabupaten OKU, OKU Timur dan OKU Selatan menggenai hasil FGD ini. Saat ini Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan DAS Musi seluas 10.400 Ha berada di OKU, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam dan Muara Enim, Sedangkan untuk DAS Bengkulu kurang lebih 8000 Ha itu masuk di OKU Selatan juga masuk dalam program pendampingan. Untuk menanam pohon itu sangat sulit dibutuhkan waktu, tenaga dan anggaran, kalau terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) maka hanya dalam sekejam semua bisa hancur. Maka mari kita bangun hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera, jadikan mata air di kawasan hutan kita, jangan jadi air mata karena hutan lindung kita rusak sehingga apabila kemaru kita kekeringan dan apabila musim hujan banjir dan tanah longsor.tutupnya.(elV110)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *