Lingkungan Hidup Ogan Komering Ulu

LLH Jejak Bumi Indonesia Minta Pemkab OKU Perketat Izin Lingkungan Hidup Batubara

#Terkait Pembuatan Landfill PLTU PT.BNYE Baturaja, JIS.Com – PT Bakti Nugraha Yuda Energy (PT BNYE) selaku pengelola PLTU Baturaja bakal membuat Landfill fly ash dan Bottom ash PLTU Baturaja 2X10 MW di kawasan Desa Tanjung Kemala Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering ulu (OKU). Hal ini diketahui setelah digelarnya rapat komisi penilaian Amdal Kab. OKU beserta konsultan dari Pihak PT BNYE di Hotel BIL Baturaja pada selasa (19/11).

Terkait hal tersebut, Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Jejak Bumi Indonesia selaku komisi penilai amdal OKU meminta kepada pihak PT BNYE agar melakukan pembangunan di OKU dengan berwawasan lingkungan hidup. “kita juga sudah memberikan surat kepada pihak PT BNYE saat rapat kemarin, surat itu kita tembuskan ke Gubernur sumsel, kementrian lingkungan hidup RI, Kapolda Sumsel, Bupati, Kadin DLH, Ketua DPRD OKU dan Kapolres OKU,” Kata ketua Bidang Lingkungan Hidup LLH Jejak Indonesia, Ary Oscar.

Menurut Ary, PLTU dengan energi batubara jelas sumber energy yang sangat tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi lingkungan hidup serta masyarakat yang sangat rentan dengan dampak kesehatan. Sisa limbah pembakaran batubara atau disebut Fly ash dan bottom ash (Faba) terdiri dari 80 persen abu padat dan 20 persen abu terbang. Sedangkan untuk kebutuhan batubara di PLTU 2X10 MW ini lanjutnya diperlukan sekitar 19 ribu ton/bulan dan dapat menghasilkan limbah Faba sekiytar 1.500 ton/ bulan.

Dikatakan Ary, Selama ini sisa limbah pembakaran itu yang bisa diserap oleh PT Semen Baturaja hanya 5-10 persen. “Bisa kita bayangkan dampak yang akan terjadi apabila tidak ada solusi penetralisir debu Faba ini, sedangkan dalam PP Pemerintah No 101 tahun 2014, Sisa pembakaran ini merupakan material yang sangat berbahaya yang bisa menghasilkan polutan berbahaya di udara seperti, mercury, timbal, arsenic, cadmium, dan partikel halus lainnya yang bisa menyebabkan berbagai penyakit dan kematian,” sebutnya.

Diungkapkan Ary, Pihak LLH Jejak Bumi Indonesia juga sangat menyayangkan perihal rapat pembahasan pembuatan Landfill fly ash dan Bottom ash PLTU Baturaja 2X10 MW di kawasan Desa Tanjung Kemala, di Hotel BIL Baturaja pada selasa (19/11) kemarin. Selaku salah satu tim penilai amdal di OKU pihaknya hanya diajak rapat pada sore hari padahal rapat itu sudah dilaksanakan sejak pagi hari. Itu pun lanjut Ary hanya pembahasan administrasi dan penyerapan kerja, kita hanya diberi waktu tanggapan dan saran hanya sebentar. Sedangkan rapat secara teknisnya digelar dari pagi kami tidak diundang, dan penjelasan rinci dari pihak konsultan dan tim ahli pada rapat juga sangat sebentar.
“mengapa hanya pembahasan administrasi dan penyerapan kerjanya, ada apa dan mengapa?,”keluhnya.

Selaku Lembaga pemerhati lingkungan Hidup di OKU, Ary juga meminta agar pemerintah kabupaten OKU dapat meninjau ulang semua izin aktifitas PLTU bersumber Energi Batubara dan perusahaan tambang batubara yang ada di OKU serta izin usaha pertambangan (IUP) yang dibuat sampai sekarang usaha pertambangan yang tidak berjalan dengan jumlah yang sangat banyak.

“Kami meminta kepada pemkab OKU untuk memperketat izin lingkungan hidup terutama masalah batubara yang kami amati sangat mudah keluar izin tersebut dan kami LLH jejak Bumi Indonesia akan melakukan kajian/penelitian mendalam mengenai batubara dan aktifitas tambang yang ada di OKU,” tukasnya. (And)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *