Lingkungan Hidup

Tersisa 12 Tahun Untuk Mencegah Terjadinya Bencana Dari Perubahan Iklim

Para ilmuwan iklim terkemuka di dunia yang tergabung dalam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan bahwa hanya ada 12 tahun tersisa atau sampai tahun 2030 untuk mencegah bencana iklim ekstrim yang terjadi karena pemanasan global dengan maksimum kenaikan suhu 1,5°C.

Karena pemanasan global diatas 1,5°C akan menambah resiko bencana alam ekstrim seperti cuaca panas ekstrim, kekeringan parah, banjir yang disebabkan curah hujan ekstrim, dan mencairnya daratan es di kutub utara yang berdampak pada ratusan juta orang di seluruh dunia.

IPCC melihat pembatasan pemanasan global hingga 1,5°C akan membutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh negara untuk perubahan yang cepat, luas dan belum pernah dilakukan sebelumnya di semua aspek kehidupan masyarakat dunia. Sekaligus memastikan kehidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan adil.

Hal tersebut diungkapkan IPCC dalam rilisnya, Senin (8/10/2018) sebagai hasil pertemuan ke-48 dari Badan PBB itu di Incheon, Korea Selatan yang dihadiri perwakilan dari 195 negara anggota.

Pertemuan itu membahas dan menyetujui Laporan Khusus tentang Pemanasan Global 1.5°C (Global Warming of 1.5°C, an IPCC special report on the impacts of global warming of 1.5°C above pre-industrial levels) dari IPCC sebagai permintaan dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) ketika mengadopsi Perjanjian Paris pada 2015.

Laporan itu ditulis oleh 91 ilmuwan dan editor dari 40 negara berdasar lebih dari 6.000 referensi ilmiah dari ribuan ahli di seluruh dunia. Laporan itu akan menjadi masukan ilmiah utama dalam Konferensi Perubahan Iklim di kota Katowice, Polandia pada Desember 2018, yang akan melakukan peninjuan Perjanjian Paris untuk mengatasi perubahan iklim.

Perjanjian Paris sendiri telah menetapkan tujuan jangka panjang untuk menahan peningkatan suhu rata-rata global dibawah 2° C di atas tingkat pra-industri dan berupaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5° C.

“Salah satu pesan kunci yang sangat kuat dari laporan ini adalah bahwa kita sudah melihat konsekuensi dari (kenaikan suhu) 1°C pemanasan global melalui cuaca yang lebih ekstrim, naiknya permukaan laut dan berkurangnya daratan es laut Arktik, diantara perubahan lainnya,” kata Panmao Zhai, Co-chair Kelompok Kerja I IPCC.

“Suhu rata-rata global pada tahun 2017 sekitar 1,1° C di atas tingkat pra-industri. Sayangnya kita sudah berada di jalur menuju batas 1,5° C dan tren pemanasan berkelanjutan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Dua dekade terakhir termasuk 18 tahun terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1850,” kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO Elena Manaenkova pada sesi pembukaan pertemuan IPCC itu.

Laporan ini menekankan sejumlah dampak perubahan iklim yang dapat dihindari dengan membatasi kenaikan pemanasan global hingga 1,5° C dibandingkan dengan kenaikan suhu 2° C, atau lebih.

Misalnya, pada tahun 2100, diprediksi kenaikan permukaan laut global akan lebih rendah 10 cm dengan pemanasan global 1,5° C dibandingkan dengan kenaikan suhu global 2° C. Kemungkinan Laut Arktik bebas dari daratan es di musim panas akan sekali per abad dengan pemanasan global 1,5° C, dibandingkan dengan setidaknya sekali per dekade dengan 2° C. Terumbu karang akan menurun 70-90 persen dengan pemanasan global 1,5 ° C, dibandingkan bakal hilang dengan kenaikan suhu global 2° C.

“Setiap tambahan pemanasan global penting, terutama karena pemanasan 1,5° C atau lebih tinggi meningkatkan risiko yang terkait dengan perubahan ekosistem yang bertahan lebih lama atau tidak dapat diubah, seperti hilangnya beberapa ekosistem,” kata Hans-Otto Pörtner, Co-chair Kelompok Kerja II IPCC.

Membatasi kenaikan pemanasan global juga akan memberi manusia dan ekosistem lebih banyak ruang untuk beradaptasi dan tetap di bawah ambang risiko yang relevan, tambah Pörtner.

Laporan ini juga memberikan langkah yang diperlukan untuk membatasi pemanasan hingga 1,5° C, apa yang diperlukan untuk mencapainya dan apa konsekuensinya. “Kabar baiknya adalah bahwa beberapa jenis aksi yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 ° C sudah berlangsung di seluruh dunia, tetapi diperlukan percepatan,” kata Valerie Masson-Delmotte, Ketua Kelompok Kerja I IPCC.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa membatasi kenaikan suhu pemanasan global hingga 1,5° C akan memerlukan transisi ‘cepat dan berjangkauan luas’ di daratan, sektor energi, industri, bangunan, transportasi, dan kota. Emisi karbondioksida (CO2) global yang disebabkan manusia akan turun sekitar 45 persen dari level 2010 pada tahun 2030, mencapai ‘nol bersih’ sekitar tahun 2050. Ini berarti bahwa emisi yang tersisa perlu diseimbangkan dengan menghilangkan CO2 dari udara.

“Membatasi pemanasan hingga 1,5 ° C dimungkinkan dalam hukum kimia dan fisika tetapi melakukannya akan membutuhkan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Jim Skea, Co-chair Kelompok Kerja II IPCC.

Menurut laporan itu, membiarkan suhu global sementara melebihi 1,5° C akan berarti meningkatkan ketergantungan yang lebih besar pada metode penghilangan CO2 dari atmosfer untuk mengembalikan suhu global ke bawah 1,5° C pada tahun 2100. Padahal efektivitas metode tersebut belum terbukti dalam skala besar dan mungkin membawa risiko signifikan untuk pembangunan berkelanjutan.

“Membatasi pemanasan global hingga 1,5° C dibandingkan dengan 2° C akan mengurangi dampak pada ekosistem, kesehatan dan kesejahteraan manusia, membuatnya lebih mudah untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB,” kata Priyardarshi Shukla, Co-chair Kelompok Kerja III IPCC.

“Keputusan yang kami buat hari ini sangat penting dalam memastikan dunia yang aman dan berkelanjutan untuk semua orang, baik sekarang dan di masa depan,” kata Debra Roberts, Co-chair Kelompok Kerja II IPCC.

Debra melanjutkan laporan itu memberi para pembuat kebijakan dan praktisi informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan mengatasi perubahan iklim sambil mempertimbangkan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat. “Beberapa tahun mendatang mungkin yang paling penting dalam sejarah kita,” katanya.

Sumber : Mongabay.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *